Sabtu, 09 November 2013
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke Facebook
Wayang
Kulit, Warisan Budaya Jawa
Wayang kulit adalah seni
tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari
kata 'Ma Hyang'
yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada
juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna
'bayangan', hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari
belakang kelir atau hanya bayangannya saja. Wayang kulit dimainkan oleh seorang
dalang
yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik
gamelan
yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden.
Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang
terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau
lampu minyak (blencong),
sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat
bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus
memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.
Secara umum wayang mengambil cerita
dari naskah Mahabharata dan Ramayana,
tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon
carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita Panji.
Asal Mula
Wayang
kulit merupakan pertunjukan kesenian suku Jawa yang usianya telah berabad-abad.
Kelahiran wayang kulit berhubungan dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa.
Salah satu Wali Songo penyebar Islam di Jawa mengadopsi wayang Beber, yaitu
wayang zaman kerajaan Hindu-Budha. Wayang Beber dimodifikasi sesuai budaya Jawa
sehingga dapat digunakan sebagai sarana penyebaran agama Islam.
Pembuatan
Wayang kulit dibuat dari bahan
kulit kerbau yang sudah diproses menjadi kulit lembaran, perbuah wayang
membutuhkan sekitar ukuran 50 x 30 cm kulit lembaran yang kemudian dipahat
dengan peralatan yang digunakan adalah besi berujung runcing berbahan dari baja
yang berkualitas baik. Besi baja ini dibuat terlebih dahulu dalam berbagai
bentuk dan ukuran, ada yang runcing, pipih, kecil, besar dan bentuk lainnya
yang masing-masing mempunyai fungsinya berbeda-beda.
Namun pada dasarnya, untuk
menata atau membuat berbagai bentuk lubang ukiran yang sengaja dibuat hingga
berlubang. Selanjutnya dilakukan pemasangan bagian-bagian tubuh seperti tangan,
pada tangan ada dua sambungan, lengan bagian atas dan siku, cara menyambungnya
dengan sekrup kecil yang terbuat dari tanduk kerbau atau sapi. Tangkai yang
fungsinya untuk menggerak bagian lengan yang berwarna kehitaman juga terbuat
berasal dari bahan tanduk kerbau dan warna keemasannya umumnya dengan
menggunakan prada yaitu kertas warna emas yang ditempel atau bisa juga dengan
dibron, dicat dengan bubuk yang dicairkan. Wayang yang menggunakan prada,
hasilnya jauh lebih baik, warnanya bisa tahan lebih lama dibandingkan dengan
yang bront.
Pertunjukan Wayang Kulit
Pertunjukan
kesenian suku Jawa wayang kulit ini diiringi oleh gamelan dan dimainkan
oleh dalang. Dalang
adalah bagian terpenting dalam pertunjukan wayang kulit (wayang purwa). Dalam
terminologi bahasa jawa, dalang (halang) berasal dari akronim ngudhal
Piwulang. Ngudhal artinya membongkar atau menyebar luaskan dan piwulang
artinya ajaran, pendidikan, ilmu, informasi. Jadi keberadaan dalang dalam
pertunjukan wayang kulit bukan saja pada aspek tontonan (hiburan)
semata, tetapi juga tuntunan. Oleh karena itu, disamping menguasai
teknik pedalangan sebagai aspek hiburan, dalang haruslah seorang yang
berpengetahuan luas dan mampu memberikan pengaruh.
Sepanjang
malam, dalang memandu gamelan sekaligus menceritakan kisah-kisah dari berbagai
karakter. Karakter-karakter yang akan dimainkan disusun pada batang pisang yang
disebut debog. Karakter-karakter baik diletakkan di sebelah kanan, sedangkan
karakter-karakter jahat diletakkan di sebelah kiri.
Dalang
harus lihai mengubah intonasi suara dan karakter suara, menceritakan lelucon,
hingga bernyanyi. Dalang ditemani oleh penyanyi wanita yang disebut sinden.
Sinden bernyanyi dengan iringan gamelan. Pertunjukan wayang kulit biasa dimulai
pada pukul 9 malam dan berakhir hingga subuh. Oleh karena itu, seorang dalang
harus memiliki stamina tinggi.
Kisah dan Karakter
Pertunjukan
wayang kulit dimulai dengan “gunungan”. Penonton melihat pertunjukan wayang
kulit di depan layar, yaitu berupa bayangan. Dalang memainkan tokoh-tokohnya di
balik layar. Bayangan tersebut dihasilkan dari lampu minyak yang diletakkan di
atas-belakang dalang.
Kisah
yang ditampilkan pada pertunjukan wayang kulit berasal dari kitab kuno, antara
lain Ramayana, Mahabarata dan Purwakanda. Pertunjukan dibagi menjadi 3 babak,
yaitu pathet lasem, pathet sanga, dan pathet mayura. Salah satu adegan yang
banyak ditunggu penonton adalah “gara-gara”, yaitu humor khas Jawa. Kadangkala
dalang menyelipkan cerita mengenai berita terhangat atau kondisi setempat.
Dalam
wayang kulit, ada karakter keluarga yang bernama Punakawan. Punakawan merupakan
abdi dan biasanya tampil di antara kisah kepahlawanan. Punakawan membawakan
humor dan filosofi hidup. Semar adalah tokoh utama Punakawan, yaitu ayah dari
Gareng, Petruk, dan Bagong. Karakter-karakter ini tidak berasal dari kitab
Hindu. Diperkirakan karakter-karakter tersebut ditambahkan untuk mengenalkan
nilai-nilai Islam.
Wayang Kulit Kini
Saat
ini, wayang kulit merupakan pertunjukan wayang paling terkenal di seluruh
dunia. Banyak orang rela begadang semalam suntuk untuk menyaksikan pertunjukan
wayang kulit dengan dalang terkenal. Dalang-dalang
wayang kulit yang mencapai puncak kejayaan dan melegenda antara lain almarhum Ki Tristuti
Rachmadi (Solo), almarhum Ki Narto Sabdo (Semarang, gaya Solo), almarhum Ki
Surono (Banjarnegara, gaya Banyumas), Ki Timbul Hadi Prayitno (Yogya), almarhum
Ki Hadi Sugito (Kulonprogo, Jogjakarta),Ki Soeparman (gaya Yogya), Ki Anom
Suroto (gaya Solo), Ki Manteb Sudarsono (gaya Solo), Ki Enthus Susmono, Ki Agus
Wiranto. Sedangkan Pesinden yang legendaris adalah almarhumah Nyi
Tjondrolukito.
Pada
7 November 2003 UNESCO menetapkan wayang kulit sebagai Masterpiece of Oral
and Intangible Heritage of Humanity. UNESCO menetapkan bahwa wayang kulit
merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan.

0 komentar:
Posting Komentar